Yandi-Paramita: “Arsitek Tidak Lebih Tahu daripada Masyarakat”

sapphire grup 11KOMPAS.com — Pasangan arsitek dan dosen arsitektur Universitas Indonesia, Yandi Adri Yatmo dan Paramita Atmodiwirjo, mengaku tak pernah merasa takut karya arsitekturnya ditiru oleh orang lain. Keduanya merasa justru di situlah kepuasan tertinggi bagi keduanya ketika karya mereka bermanfaat bagi masyarakat.

Yandi dan Mita, sapaan akrab mereka, cukup banyak menghasilkan karya-karya bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah sebuah bangunan publik yang dibangun dengan mengutamakan semangat gotong royong masyarakat di Cepogo, Ngargorejo, dan Bongkok, Boyolali, Jawa Tengah. Tahun lalu, karya tersebut berhasil meraih penghargaan “Acknowledgement Awards” dari Holcim Awards 2011. Beberapa karya lainnya adalah “Comberan Project” di daerah Semper, Jakarta Utara, dan renovasi perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 08, Pancoran, Jakarta Selatan.

Ditemui di acara Holcim Awards 2011 di Jakarta, Kamis (3/5/2012), Yandi dan Mita mengisahkan misi serta harapan mereka sebagai arsitek dan dosen yang tertuang lewat karya-karya arsitektur. Simak petikan perbincangannya dengan Kompas.com:

Sebagai seorang arsitek, apa yang Anda inginkan lewat karya-karya Anda?

Kami ingin mencari desain orang Indonesia itu seperti apa. Kami menyadari bahwa desain Indonesia itu kaya. Kesadaran ini muncul ketika kami belajar di luar negeri. Namun, yang kerap terjadi, kami (arsitek) mendesain untuk orang luar atau desain dari luar itu diterapkan di Indonesia. Dalam rangka mencari hal itulah, kami sering bepergian ke daerah-daerah untuk menemukan desain orang Indonesia.

Mengapa Anda tertarik dengan konsep pembangunan berkelanjutan?

Sebenarnya konsep ini adalah bagian dari usaha memberikan pendidikan kepada masyarakat. Sustainable development ini salah satu poinnya.

Terkait konsep pembangunan berkelanjutan, mengapa Anda menggarisbawahi penggunaan material di sekitar tempat tinggal?

Tujuannya adalah penghematan biaya, karena di dalam pikiran masyarakat untuk membangun itu mahal. Padahal, material di sekitarnya itu memiliki kualitas tidak kalah bagusnya.

Sebagai arsitek, kami tahu bahwa pemakaian material di dekat lokasi tempat tinggal untuk mengurangi efek karbon. Akan tetapi, ini sulit ketika disampaikan kepada mereka. Kami menggunakan dua bahasa ini, yaitu penghematan biaya dan mengurangi efek karbon. Memang berat bagi kami, tetapi tidak lantas dijadikan halangan.

Kendala apa yang Anda hadapi dengan mengemban misi tersebut?

Masyarakat berpandangan bahwa bangunan yang bagus didapatkan dari harga mahal. Kami harus memberikan alternatif pemikiran bahwa tidak selalu seperti itu. Mereka berpikir begitu karena tidak tahu. Peran kami sebagai arsitek harus mengubah itu, yaitu, bahwa dari material bekas ternyata manfaatnya juga tak kalah. Kemudian, kami akan melakukan survei terkait kebutuhan mereka dan memulai dengan sesuatu yang tidak sulit.

Ternyata Anda banyak belajar dari masyarakat?

Saya mengajarkan kepada mahasiswa saya bahwa kita (arsitek) tidak lebih tahu daripada masyarakat. Kebudayaan membangun atau semangat gotong royong sudah ada sejak dulu.

Saya banyak mendapatkan ilmu baru dengan menjadi dekat bersama mereka (masyarakat). Saya sangat menghormati mereka. Misalnya, saya mendapat pengetahuan bahwa antara paku dan pasak itu berbeda. Dengan pasak, hasilnya menjadi lebih kuat. Arsitek kerap lupa dengan hal-hal seperti itu, tetapi masyarakat tidak.

Sebagai seorang arsitek, bagaimana agar karya Anda menjadi bermanfaat?

Kami berusaha membuat karya arsitektur yang biasa, tetapi dapat dikerjakan oleh siapa saja. Bagi kami, karya akan lebih bermanfaat apabila masyarakat merasa memilikinya.

Lho, kalau kemudian karya Anda malah banyak ditiru?

Bagi kami itu tidak masalah. Selama dipakai dan berdaya guna untuk masyarakat,  kami senang. Kami adalah arsitek, kerjanya menciptakan ide-ide baru. Kalau ada yang meniru, mengapa harus takut? Kami bisa mendapat ide baru lagi.

Sumber