‘Unity in Property’

sapphire grup 119RumahCom – Media properti kian beragam. Jika dulu terbatas pada majalah tabloid, dan televisi, belakangan situs-situs properti meramaikan dunia maya. Namun, tak banyak orang menyadari bahwa media radio dengan segmentasi properti pun terbilang powerful dijadikan lahan bisnis.

Hal inilah yang dicermati Atet Sugiharto yang mendirikan radio properti: propertimedia.com yang mulai mengudara sejak Juli 2011 lalu. Dia menjelaskan, alasan masuk ke bisnis radio internet, karena belum ada radio yang mengambil segmentasi properti. “Salah satu cara meng-grab pasar adalah lewat internet,” kata Atet. “So far, feed back-nya positif.”

Alasan kedua, imbuh Atet, media internet yang ada masih terbatas menampilkan listing. “Kami ingin menjadi media yang merangkul semua dan jadi wadah bagi semua stake holder properti, dengan moto: ‘unity in property,’” kata Chief Marketing Officer PropertiMedia.com ini.

“Ketiga, berbicara internet, harus bicara infrastruktur. Apa saja aplikasi yang bisa berjalan dengan baik lewat internet. Kalau website sudah umum, sementara video agak sulit diakses di luar Jakarta, jadi jalan tengahnya adalah radio,” papar Atet.

Untuk menjangkau orang yang awam atau tidak memiliki akses internet, Atet memiliki kiat tersendiri. “Kami punya mitra radio-radio FM dan AM. Target kami dalam tahun ini sudah ada delapan sampai sepuluh mitra radio FM di seluruh Indonesia,” katanya. “Bagi mereka yang tidak punya akses internet, bisa mendengarkan siaran kami lewat radio-radio di daerah mereka. Kami sudah mulai bekerjasama dengan beberapa radio di Semarang, Pontianak, dan Jabodetabek.”

Untuk memperkaya konten, Atet merangkul media-media lain untuk berkolaborasi. “Kami menganggap media online seperti Rumah.com sebagai mitra, karena dari sudut pandang saya, bisnis ke depan adalah kolaborasi yang saling memberi manfaat. Kalau konsepnya bermusuhan, bukan partner, maka akan sulit merangkul komunitas,” jelasnya.

Atet berharap, ke depan masyarakat luas melek dan paham properti. “Apakah properti indentik dengan membangun gedung-gedung, sementara melupakan tanah yang seharusnya dijadikan perkebunan atau ruang terbuka hijau. Ini kan belum banyak disadari masyarakat. Jadi bisnis properti harus dilakoni dengan benar,” pungkasnya.

Sumber