Tahun Ini, Harga Rumah Diperkirakan Naik Lagi!

sultan residence arjawinangunJAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia Eddy Ganefo mengatakan, harga rumah tapak nonsubsidi tahun ini diperkirakan naik 5 sampai 10 persen. Kenaikan tersebut kemungkinan akibat naiknya tarif dasar listrik (TDL) dan bahan bakar minyak.

“Tentu, kita juga berharap rencana kenaikan TDL dan BBM ini juga bertahap dan proporsi kenaikannya tidak mengejutkan,” kata Eddy seusai jumpa pers pembukaan BTN Property Expo 2013, Sabtu (2/2/2013).

“Mungkin akan naik untuk rumah-rumah komersial karena harga material bisa terpengaruh dari kenaikan itu, terutama kenaikan BBM. Kalau rumah bersubsidi tidak (karena) kan harganya sudah dipatok pemerintah dan harga itu sudah pasti,” ujarnya.

Mengenai kemungkinan kenaikan itu, Ketua DPP Realestat Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan belum dapat memastikannya. Setyo mengaku belum bisa menghitung besar-kecilnya pengaruh kenaikan TDL dan BBM terhadap harga material bangunan.

Setyo mengatakan, REI masih optimistis bahwa tahun ini dunia properti Indonesia tetap berkembang, terutama dengan tingginya konsumen kalangan menengah ke atas sebagai konsumen terbesar dan menjadi sasaran pengembang. Terbukti dari 400 proyek yang ditampilkan di pameran BTN Property Expo 2013, rumah tapak dan apartemen untuk kalangan menengah sangat mendominasi dengan harga jual Rp 300 juta hingga Rp 600 juta.

“Rata-rata produk properti di kisaran harga tersebut laku keras. Saat ini, produk properti di harga Rp 200 juta sampai Rp 600 juta itu seperti kacang goreng karena memang produksinya juga lebih banyak di kelas ini,” ujar Setyo.

Sementara itu, Direktur Utama BTN Maryono berharap tahun ini KPR dapat tumbuh 30-35 persen. Ia menargetkan komposisi KPR non-subsidi sebanyak 60-65 persen, sedangkan KPR subsidi mencapai 35-40 persen. Untuk mendongkrak pencapaian tersebut, kata Maryono, di pameran ini BTN juga menyediakan fasilitas kredit dengan bunga subsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).

“Dua tahun terakhir ini BTN masih menguasai pangsa pasar rumah subsidi dengan jumlah 98 persen penyaluran kredit yang didukung FLPP,” kata Maryono.

Sumber