RI Terancam Alami Krisis Perumahan Hingga 30 Tahun Mendatang

sapphire grup 33Jakarta – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) menegaskan Indonesia merupakan negara yang paling banyak kekurangan pasokan rumah (backlog).

Saat ini, backlog di Indonesia sudah mencapai 15 juta unit, jumlahnya terus bertambah setiap tahun sehingga butuh waktu puluhan tahun untuk menutup kekurangan.

Ketua Apersi Eddy Ganefo mengatakan, backlog akan sulit dikurangi jika pemerintah tidak cepat ambil tindakan untuk mengatasinya. Dengan jumlah backlog sebanyak 15 juta unit rumah, Indonesia sudah mengalami krisis perumahan. Bila tak cepat diatasi, Indonesia akan alami krisis perumahan hingga 30 tahun mendatang.

“Indonesia negara paling banyak backlognya. Penyediaan rumah bagi masyarakat masih sangat minim. Di samping karena nggak mampu mencicil, masyarakat kita juga nggak mampu bayar DP (uang muka),” kata Eddy saat dihubungi detikFinance, di Jakarta, Senin (2/9/2013).

Eddy menyebutkan, Indonesia bisa mengatasi krisis perumahan dalam 30 tahun mendatang. Hal itu bisa terjadi jika ada kebijakan penghapusan biaya uang muka kredit rumah yang selama ini jadi kendala utama masyarakat untuk punya rumah. Menurutnya, perlu adanya subsidi untuk uang muka bagi masyarakat yang memang betul-betul tidak mampu membayarnya.

“Backlog bisa diatasi 30 tahunan ke depan dengan catatan subsidi DP, kalau nggak itu nggak bisa. Seyogyanya pemerintah mengembalikan DP, menghapus pemberlakuan DP. Dulu, masyarakat itu dibantu pemerintah untuk penghapusan DP minimal pengurangan DP sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jadi misalkan uang mukanya Rp 8 juta ya bisa dikurangi jadi setengahnya atau dihapus sama sekali, itu uangnya dari subsidi pemerintah,” terangnya.

Eddy menambahkan, dengan subsidi atau bisa juga penghapusan uang muka bagi masyarakat tidak mampu bisa menjadi salah satu solusi meningkatkan jumlah masyarakat untuk bisa punya rumah sendiri.

“Itu usulan kita ke pemerintah, supaya menerapkan itu. Krisis perumahan bisa diatasai minimal berkurang kalau bisa menerapkan itu,” ujarnya. detikfinance