REI: Sekali Lagi… “Over Value”, Bukan “Bubble”!


sapphire grup 46JAKARTA, KOMPAS.com –
Direktur Mortgage & Consumer Lending BTN, Mansyur S Nasution mengatakan, industri properti di Indonesia belum mengalami penggelembungan (bubble) seperti dikhawatirkan publik. Menurutnya, harga properti memang melambung tinggi, tetapi tidak sampai menciptakan kondisi gelembung.

“Properti kita tidak bubble. Kalau kenaikan harga yang tinggi memang iya, itu pun di beberapa lokasi tertentu,” ujar Mansyur dalam diskusi “DP Rumah Naik VS Penyedia Hunian Rakyat” yang diselenggarakan Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera), di Jakarta, Minggu (21/7/2013).

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan bahwa sektor properti Indonesia tidak terkena bubble. Saat ini, kondisi yang sebenarnya terjadi adalah tingginya harga-harga (over value) properti, bukan bubble. Itu pun terjadi di lokasi-lokasi strategis tertentu atau lokasi dengan kondisi permintaan tinggi.

Over value iya, bukan gelembung. Memang harga di beberapa lokasi sudah sangat tinggi karena demand-nya juga tinggi,” ujar Maharso.

Ia mengambil contoh harga properti di kawasan CBD Thamrin dan CBD Kuningan, saat ini sudah mencapai angka Rp 150 juta per meter persegi.

“Di kawasan-kawasan tersebut memang sudah over value,” ungkap Setyo.

Sementara itu, terkait penerapan kebijakan penerapan kebijakan loan to value (LTV) BI secara progresif terhadap pembelian rumah kedua dan ketiga, Mansyur menyambut positif. Hal itu bisa mengimbangi laju pertumbuhan properti tetap sehat.

“Lebih dari itu, kebijakan LTV tidak akan mengganggu realisasi kredit BTN. Dengan penerapan LTV pada rumah kedua dan ketiga, harga rumah pertama tidak akan terkerek naik yang pada gilirannya akan menstabilkan pasar properti. Efek positifnya, LTV akan mempengaruhi pasar di segmen yang lebih kecil sehingga akan lebih stabil,” ujar Mansyur.

Selama ini, imbuhnya, kenaikan harga properti yang sangat cepat berdampak pada naiknya harga tanah di wilayah-wilayah yang sebelumnya digunakan untuk membangun rumah tipe kecil dan rumah-rumah dengan skema KPR bersubsidi.

Hingga Maret lalu, kinerja BTN untuk pembiayaan KPR FLPP (rumah bersubsidi) hampir mendekati 17.000 unit. Mansyur belum bisa memaparkan data terakhir kinerja BTN pada periode Mei 2013.

Market share kami masih 90 persen di Kemenpera. Dari segi pertumbuhan kecil sekali untuk rumah subsidi, cuma tiga persen,” ungkapnya.