Properti Menengah Atas Berpeluang Tumbuh di 2012

sapphire grup 132Bagi sebagian pengembang, tahun 2011 merupakan tahun keemasan mereka. Bagaimana tidak, produk properti yang dihasilkannya mampu terserap dengan begitu cepat. Pertumbuhannya mengalami peningkatan, seiring permintaan pasar yang juga terus meninggi. Iklim ekonomi yang stabil menjadi faktor penentu geliat bisnis properti di Indonesia. Meski persaingan pasar yang begitu ketat, sejumlah pengembang justru berlomba meraih pasar properti yang dinamis. Manisnya ceruk bisnis itu, rupanya dimanfaatkan dengan baik oleh PT Lippo Karawaci Tbk.

Bambang Sumargono, Associate Director Kemang Village mengatakan, semua segmentasi pasar properti di tahun 2011 secara keseluruhan mengalami peningkatan yang cukup bagus. Pergerakan pertumbuhannya menunjukkan angka yang signifikan. Khususnya di Jabodetabek, properti terus tumbuh secara merata. Peningkatan daya beli masyarakat didukung oleh menguatnya perekonomian yang stabil dan kondusif. Apresiasi produk properti itu sendiri dapat diterima dengan baik oleh konsumen properti di Indonesia. Bicara mengenai harga properti itu sendiri, kenaikan harga di 2011 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi pasar di 2010 lalu.

Tingginya nilai jual properti, tidak mempengaruhi antusias daya beli masyarakat saat ini. “Hingga kini, kenaikan rata-rata nilai jual sebuah properti mampu berada angka 15-20% selama tahun 2011. Di Kemang Village sendiri, kenaikan harga yang terjadi sempat 25% dari tahun sebelumnya,” ungkap Bambang. Bambang berkata, meski mengalami kenaikan, pasar properti hingga penutup akhir tahun ini masih terasa cukup bagus. Indikasi kenaikannya dapat terlihat dari permintaan pasar akan hunian yang masih tinggi.

Tren properti memang dirasakan banyak pengembang sedang berada dimasa keemasan. “Saya rasa di tahun ini adalah saat yang tepat untuk membeli properti. Ditunjang oleh suku bunga perbankan yang turun dan faktor ekonomi yang stabil,” terangkannya. “Melihat pasar properti seperti ini, saya rasa pengembang cukup optimis kalau di 2012 nanti justru akan jauh lebih baik lagi,” jelaskan Bambang. “Apartemen dan landed house berpeluang untuk berkembang secara merata. Meski pasar apartemen hadir di Indonesia masih cukup baru, tapi animo masyarakat akan kebutuhan itu cukup tinggi,” tambahnya.

“Saya yakin, permintaan akan kebutuhan di dua sektor properti tersebut akan terus meningkat. Melihat lahan yang tersedia di Jakarta sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengembangkan perumahan. Jika pasar apartemen dapat diterima dengan baik, apalagi pasar hunian perumahan,” uraikan Bambang. Lalu, bagaimana pertumbuhan properti di tahun 2012? Bambang berargumentasi, bisnis properti pada level tertentu mungkin akan terus tumbuh. Bahkan, bila dikaitkan dengan krisis Eropa yang membayangi Indonesia, pastinya pasar properti di level menengah dan atas, tidak akan terpengaruh.

“Jikalau efek krisis itu berimbas, pengaruhnya tidak signifikan. Beda dengan pasar properti level bawah. Menurut saya, di tahun 2012 properti level bawah saya rasa tidak mengalami pertumbuhan,” terangkannya kembali. Lebih lanjut Bambang mengungkapkan, khususnya di proyek Kemang Village, PT Lippo Group pada 2012 nanti menargetkan 1,5 triliun rupiah untuk penjualan propertinya. Untuk mencapai nilai tersebut, banyak yang akan dikembangkan di area proyek tersebut. Akan ada beberapa tower yang segera dipasarkan.

Melihat indikasi kenaikan nilai jual properti serta daya beli masyarakat yang membaik. “Kami yakin pengembangan komplek Kemang Village dapat di serap oleh konsumen properti. Sangat optimis, karena kami sudah memiliki pangsa pasarnya,” tegaskannya bangga. “Kami antusias untuk mengembangkan Kemang Village untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan lingkungan hunian ideal. Dengan kondisi ekonomi membaik, indikasi bisnisnya bagus dan pertumbuhan yang cepat,” paparkan Bambang. “Saya berharap, bisnis properti akan memberikan dampak positif bagi semua sektor bisnis di Indonesia,” imbuhnya.

Dedy Mulyadi, Foto : Istimewa

Sumber