Pentingkah Aturan Kepemilikan Asing di Indonesia?

sapphire grup 110RumahCom – Isu akan dibukanya kran kepemilikan asing di Indonesia masih hangat diperbincangkan. Hampir semua pihak melihat hal ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan pasar properti di Indonesia.

Potensi pasar Indonesia dengan harga properti yang masih relatif rendah memberikan nilai persaingan yang cukup baik untuk pasar asing. Diperkirakan akan banyak devisa yang masuk ke Indonesia melalui kepemilikan asing ini.

Saat ini orang asing sebenarnya bisa memiliki properti di Indonesia dengan hak pakai, hak sewa, atau hak guna usaha. Dalam pembahasan di DPR dipertimbangkan untuk memperpanjang masa hak pakai antara 70 tahun bahkan 99 tahun.

Setyo Maharso, Ketua Umum REI mengamati ada sekitar 30%-40% properti di Bali dimiliki oleh asing. Mungkin tidak secara langsung mereka memiliki properti yang ada, karena umumnya mereka menikah dengan orang Indonesia dan menggunakan nama pasangannya untuk membeli properti tersebut.

Namun demikian melihat potensi pasar yang ada memang tidak dapat dipungkiri bahwa pasar properti untuk asing boleh dibilang sangat tinggi. Di satu sisi, kepemilikan asing akan meningkatkan pertumbuhan properti nasional, namun di lain sisi, perlu ada pembatasan sehingga tidak merugikan pasar lokal Indonesia sendiri.

Asing Masuk, Harga Properti Melambung
Masuknya orang asing untuk membeli properti di Indonesia otomatis akan menaikkan nilai properti secara signifikan. Hal ini pasti terjadi, mengingat daya beli orang asing yang tinggi dan nilai properti di Indonesia yang relatif rendah. Pertumbuhan nilai itu sendiri memberikan tingkat keuntungan yang tinggi bagi para pengembang, namun sebenarnya harus diwaspadai dampak bubble properti yang mungkin timbul setelah itu.

Kekhawatiran Bank Indonesia saat ini mengenai bubble di sektor properti, karena peningkatan nilai KPR dan harga mungkin agak berlebihan, bila dibandingkan jika kran kepemilikan asing sudah benar-benar dibuka. Mengapa bubble properti menjadi berbahaya? Belajar dari perkembangan properti di negara lain, nilai properti mereka yang tergerek berlipat-lipat dengan masuknya kepemilikan dari luar akan mengalami crash ketika krisis terjadi di negara asal pemilik. Secara drastis nilai properti akan jatuh dan pasar runtuh.

Inilah yang membedakan mengapa pasar properti Indonesia tetap baik ketika krisis Amerika dan Eropa terjadi, karena pasar Indonesia saat ini masih didominasi pasar lokal. Sedangkan pasar properti di negara tetangga mengalami pecahnya bubble di sektor properti yang mengakibatkan nilai properti jatuh.

Pengembang Wajib Bangun Rusun
Melihat kondisi tersebut, ketika kepemilikan asing dibuka di Indonesia, sebaiknya perlu persiapan peraturan-peraturan pembatasan untuk melindungi pasar lokal. Pembatasan luas dan jumlah pembelian sebaiknya diatur untuk memberikan keseimbangan antara pasar asing dan pasar lokal nasional. Bila tidak ada pembatasan, maka asing dipastikan akan menguasai sebagian besar pasar properti nasional dan hal itu akan membahayakan keseimbangan pasar.

Satu lagi yang tidak kalah penting, undang-undang mengenai rumah susun yang mengharuskan pengembang memberikan kontribusi 20% untuk rumah susun sederhana bagi MBR, harus tegas direalisasikan dan dilaksanakan pemerintah. Perlu juga dibuat peraturan pemerintah untuk menjelaskan mengenai aturan tersebut.

Seharusnya peraturan ini menjadi fair bagi pengembang, karena ketika kran kepemilikan asing dibuka, maka keuntungan yang bagi pengembang pun berlipat-lipat. Selain itu, sudah menjadi tanggung jawab moral bagi para pengembang untuk turut menyediakan hunian bagi MBR untuk menghindari dampak kesenjangan sosial di perkotaan. Dengan demikian, diperkirakan pasar properti nasional akan menjadi lebih sehat dan keseimbangan pasar dapat terbentuk dengan baik.

Sumber