Pengembang Kecewa kepada Menpera

sapphire grup 82Pengembang yang tergabung dalam keanggotaan Realestat Indonesia (REI) mengaku kecewa dengan sikap Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, yang tidak merekomendasikan peresmian 100.000 rumah sejahtera tapak kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Akibat hal itu, Presiden tidak hadir untuk meresmikan 100.000 unit rumah sejahtera tapak (RST) tersebut, Rabu (13/3/2013), di Perumahan Nuansa Griya Arosuka Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

“Sebetulnya kami membangun RST ini untuk membantu Kementerian Perumahan Rakyat. Namun, kegiatan ini tidak mendapat rekomendasi oleh Menpera sehingga Presiden tidak datang. Secara lokasi bagus atau cocok untuk MBR, harganya Rp 75 juta. Kami tidak mengerti kalau perumahan ini tidak layak untuk direkomendasikan ke Presiden,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Setyo Maharso pada jumpa pers HUT REI ke-41 di Padang, Rabu sore. [pullquote style=”right”]Sebetulnya kami membangun RST ini untuk membantu Kementerian Perumahan Rakyat. Namun, kegiatan ini tidak mendapat rekomendasi oleh Menpera sehingga Presiden tidak datang.[/pullquote]

Beberapa anggota DPD REI pun menyatakan kekecewaannya. Mereka menuntut Menpera Djan Faridz untuk bisa menjelaskan hal ini. “Kami akan menulis surat ke Menpera Djan Faridz mengenai hal ini untuk meminta penjelasan. Soal akan ditembuskan suratnya ke Presiden, kami belum tahu,” ujar Setyo.

Peresmian 100.000 unit rumah sejahtera tapak (RST) di Perumahan Nuansa Griya Arosuka, Solok, itu digelar dalam rangka rangka menyambut hari ulang tahun ke-41 REI. Ini merupakan peresmian 100.000 unit RST keempat oleh pengembang anggota REI setelah peresmian di Semarang tahun 2007, Jonggol di Jawa Barat pada 2008, serta di Lamongan, Jawa Timur, pada 2010.

Setyo mengatakan, sinergi antara para pengembang REI dan Kementerian Perumahan Rakyat serta instansi lain seharusnya semakin diperkuat untuk menyediakan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pemerintah, baik pusat maupun daerah, juga harus memiliki komitmen untuk terus membangun perumahan rakyat, terutama untuk golongan menengah ke bawah.

“Target REI tahun ini 200.000, tapi data yang terdaftar di REI itu 138.000. Artinya, kami sudah membantu Kemenpera untuk ikut mengurangi angka kekurangan rumah (backlog) yang saat ini mencapai 13,6 juta rumah,” ujar Setyo.

Tahun lalu REI sudah mencapai pembangunan rumah untuk MBR sebanyak 140.042 unit RST.

Sumber