Pasar Properti Global Mulai Pulih

sapphire grup 002JAKARTA, KOMPAS.com – Konsultan properti internasional, Jones Lang LaSalle, menyatakan bahwa pasar properti di tingkat global mulai menunjukkan ke arah pemulihan karena terjadinya kenaikan volume investasi pada periode kuartal II tahun 2012.

Berdasarkan studi “Global Market Perspective” Jones Lang LaSalle yang diterima di Jakarta, Selasa (7/8/20120), volume investasi di pasar properti global pada kuartal II tahun 2012 mencapai 108 miliar Dolar AS atau meningkat 2,24 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal tersebut, menurut Jones Lang LaSalle, menunjukkan bahwa pasar properti global sedang berada di jalan yang tepat untuk mencapai volume investasi sebesar 400 miliar Dolar AS di pengujung 2012.

Di bidang perumahan residensial di Asia, tingkat penjualan menunjukkan peningkatan antara lain di Jakarta, China dan Hong Kong, sedangkan volume tinggi di bidang residensial juga tercatat di Jerman.

Sebagaimana, para pengusaha properti Indonesia dinilai lebih meminati membangun proyek untuk memenuhi pasokan dalam negeri dibanding menjajaki ekspor jasa untuk membangun proyek properti di luar negeri.

“Potensi pengembang membuat proyek di luar negeri ada, tetapi sebenarnya di dalam negeri sendiri masih terjadi ’backlog’ atau banyak sekali kekurangan suplai perumahan,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Eddy Ganefo, awal Juli lalu.

Karenanya, ujar Eddy, masih sedikit pengembang atau pengusaha properti yang tergabung dalam Apersi, yang berminat untuk menjajaki dalam proyek pembangunan properti di luar negeri.

Senada dengan Eddy, Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan, hanya di bawah satu persen dari jumlah pengembang yang tergabung dalam REI yang memiliki proyek properti di luar. Menurut Setyo, hal tersebut karena pasar di dalam negeri Indonesia itu sendiri masih sangat besar potensi pasarnya terlebih karena bisnis properti itu termasuk sebagai bisnis padat modal.

Setyo mengemukakan, hambatan untuk ke luar negeri itu juga ditambah dengan masih belum mendukungnya tingkat suku bunga terkait dengan kredit terhadap sektor properti.

Sumber