Naning S. Adiwoso: Green Property Tak Harus Mahal

sapphire grup 105RumahCom – Selama ini, green property diasumsikan sebagai gedung yang memakan biaya tinggi. Namun hal itu ditampik Naning S. Adiningsih Adiwoso. Penggagas dan Ketua Green Building Council Indonesia (GBCI) mengatakan, green property tidak selalu mahal. Berikut nukilan wawancaranya dengan Rumah.com di sela-sela seminar bertajuk Invasion to Green Territory, Senin (2/7).

Belakangan, banyak pengembang yang mengklaim membangun green property. Apa tanggapan Anda?
Memang banyak, tetapi kita tidak boleh men-disregard mereka, karena  mereka juga sudah berusaha. Dalam perjalanannya, mereka juga belajar bahwa green property tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga mengurangi energi, dan menangani sampah. Cepat atau lambat mereka sudah ke arah itu, tetapi semua perlu waktu. Saya mengatakan, para pengembang ini tidak salah, tetapi belum sempurna.

Apakah sekarang konsumen juga menginginkan produk green property?
Berbicara green property, sama dengan berbicara hidup sehat. Kalau sehat, kita bisa bekerja, sehingga memiliki economic value. Jadi sebenarnya yang diinginkan konsumen adalah hidup sehat. Cepat atau lambat, generasi muda mulai ingin membeli green property. Mereka juga mulai bertanya-tanya, apakah anak mereka bisa masuk green school, yang sehat dan baik sanitasinya. Kita akan menuju green school dan green education.

Artinya, jika pengembang dan konsumen menuju arah green property, apakah semua ini akan berjalan lancar?
Insya Allah. Kami dari GBCI ingin mentransformasi kepada developer, arsitek dan konsumen untuk lebih pandai memilih produk.

Dari sisi ekonomi apakah green property lebih mahal?
Tergantung dilihat dari sisi mana. Jika menggunakan teknologi, tentu saja mahal, tetapi green property juga bisa didapat dengan cara sederhana, seperti yang dilakukan di Kampung Naga. Kita lihat, banyak juga yang menggunakan classic design untuk mendapat micro climate effect, seperti dengan menggunakan tanaman, menyiasati posisi bangunan, dan memakai ventilasi yang baik. Jika terpaku high technology, maka jadi mahal.

Artinya green property tidak selalu mahal?
Benar.

Jika merujuk Kampung Naga, mereka punya kearifan terhadap lingkungan. Bagaimana tanggapan Anda?
Ya, marilah sama-sama kita mengambil kearifan mereka. Di negara kita banyak sekali kearifan tersebut, seperti rumah panggung di Kalimantan atau rumah tradisional di Flores. Tetapi kita selalu mencontoh budaya luar yang tidak cocok dengan lingkungan kita.

Bagaimana pemahaman masyarakat tentang gaya hidup hijau sejak GBCI berdiri?
Kami berdiri 9 September 2009 dan sudah diakui World Green Building Council di Kanada. Bahkan, kami lebih dulu dari Malaysia dan Singapura. Menurut pendapat saya, prosesnya cukup cepat. Sekarang pihak pemerintah juga sudah ikut berpartisipasi, seperti kementerian Pekerjaan Umum, ESDM, KLH.

Apa harapan Anda ke depan?
Saya berharap kita semua bisa bergaya hidup hijau, sehingga negara kita menjadi negara yang sehat dan membentuk planet yang sehat.

Sumber