Keuntungan Memilih Bank Syariah (1)

151123052Perbankansyariah

   Industri perbankan syariah terus mengalami pertumbuhan organik yang signifikan. Dalam kurun 5 tahun terakhir, pertumbuhan perbankan syariah konsisten berada di kisaran 38-45 persen yoy (year on year).

   Berdasarkan Statistik Perbankan Syariah per Agustus 2013, terdapat 11 Bank Umum Syariah (BUS), 24 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 160 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Total aset Bank Syariah mencapai Rp.228,9 T.

   Bank Syariah juga berhasil mengumpulkan dana masyarakat sebesar Rp.173,6 T dan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp.178,8 T. Dari total pembiayaan tersebut, sebesar Rp.107,2 T (60 persen) pembiayaan disalurkan untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Jumlah rekening yang ada di Bank Syariah juga meningkat 28 persen dari 12,5 juta menjadi 16 juta rekening.

   Hal tersebut merupakan sedikit gambaran mengenai kondisi Bank Syariah saat ini. Fenomena pertumbuhan yang signifikan tersebut juga bukan tanpa alasan. Jika dicermati, ada berbagai keuntungan yang menjadikan Bank Syariah diminati oleh masyarakat.

Pertama, Bank Syariah merupakan bagian dari sistem keuangan Syariah yang bersifat universal. Nasabah Bank Syariah boleh dari kalangan manapun dan pegawainya pun boleh nonmuslim. Sistem perbankan syariah akan mendatangkan kebaikan bagi siapapun yang menggunakannya. Tak heran jika negara-negara di Eropa, Hongkong dan Singapura yang mayoritas penduduknya nonmuslim ingin menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Kedua, Skema akad (transaksi) selalu menggunakan skema riil sesuai tujuan penggunaannya, seperti Jual Beli, Bagi Hasil, Sewa Menyewa, Jasa dan Layanan. Penggunaan skema transaksi riil ini bisa memudahkan pihak yang bertransaksi untuk mencermati serta mencerna dengan mudah hal-hal yang menjadi konsekuensi hak dan kewajibannya.

   Hal ini berbeda dengan Bank Konvensional yang hanya menggunakan skema Kreditur dan Debitur. Misalnya ketika kredit digunakan untuk tujuan yang beragam, nasabah tidak tersuasanakan untuk berada dalam kondisi transaksi riil karena hanya menggunakan tolok ukur perhitungan bunga sehingga nasabah akan cenderung fokus pada fluktuasi tingkat suku bunga yang pasti spekulatif.

   Bank Syariah juga mempertegas skema profit dan nonprofit. Untuk tujuan profit, Bank Syariah menggunakan akad berbasis bisnis seperti Jual Beli, Bagi Hasil, Sewa Menyewa, Jasa dan Layanan. Sedangkan untuk nonprofit, Bank Syariah menyediakan produk berbasis tolong menolong seperti Pinjaman Kebajikan (qardh al hasan), ZISWAF, Corporate Social Responsibility (CSR), dan lain-lain.

Ketiga, Tidak menggunakan sistem bunga dan tidak ada bunga berbunga. Bank Syariah tidak menggunakan sistem berbasis bunga karena Bank Syariah menggunakan transaksi riil dengan konsekuensi yang jelas, logis dan konsekuen.

   Sebagai gambaran, jika transaksi Jual Beli sudah disepakati harganya, maka tidak akan mungkin harga bertambah dan berubah-ubah (fluktuatif). Untuk transaksi berbasis bagi hasil, kepastian pembagian hasil dihitung dari jumlah keuntungan, bukan dari jumlah pokok pinjaman (seperti yang terjadi pada sistem berbasis bunga).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *