Kemenpera ingin hidupkan lagi rusunami di Jakarta

sapphire grup 75Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz meminta dukungan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk menghidupkan lagi pembangunan rumah susun sederhana milik (rusunami) bersubsidi di Jakarta yang terhenti. Upaya itu dengan mengembalikan insentif bagi pengembang yang dihentikan pada masa pemerintahan periode sebelumnya.

Demikian dikemukakan Faridz kepada wartawan, beberapa waktu lalu. Tahun ini pihaknya akan menghidupkan lagi program pembangunan 1.000 menara rusunami bersubsidi yang terhenti, khususnya di DKI Jakarta. Upaya tersebut antara lain dengan meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk mengembalikan insentif bagi pengembang berupa kenaikan koefisien lantai bangunan (KLB) dari 3,5 menjadi 6 agar rumah susun bias dibangun sampai 24 lantai. Insentif KLB 6 pernah diberikan pada tahun 2007, yakni pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (1997-2007).

“surat terkait KLB sudah dilayangkan ke gubernur untuk mengembalikan isentif KLB, dan sudah ada kesepakatan antara Gubernur DKI dan Menpera untuk meninjau ulang ketentuan KLB supaya pasokan rusunami bertambah,” uajr Faridz. Ia menambahkan, jika tidak ada insentif tersebut, maka program rusunami dipastikan akan terus macet di Jakarta. Padahal, kebutuhan rusunami di Jakarta mencapai 70 persen dari total kebutuhan rusunami.

Untuk mendorong program rusunami, pihaknya juga akan terjun mengusahakan tanah ditengah kota untuk menopang harga rusunami agar terjangkau masyarakat berpenghasilan menengah bawah. Saat ini, harga apartemen di tengah kota Jakarta sudah mencapai Rp 25 juta per meter persegi, sedangkan pemerintah hanya mematok harga rusunami Rp 4 juta per meter persegi.

Penjajakan lahan sedang dilakukan untuk tanah-tanah terlantar milik badan usaha milik negara dan kementrian, seperti Bulog, ANgkasa Pura II, Kementrian Perhubungan, Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara. Pada lahan tersebut akan dibangun rusunami dengan melibatkan Perumnas, dan pengembang swasta. Sasarannya, masyarakat menengah bawah dengan harga maksimum Rp 216 juta per unit.

Sumber: Majalah Real Estate Volume 7 Edisi 1 2013