Geliat Rumah Para Keluarga Muda

sapphire grup 59Kalangan keluarga muda kini cukup banyak yang hidup sejahtera. Buktinya, tak sedikit pasangan baru menikah sudah mampu beli rumah.

Ketersediaan berbagai tipe rumah dengan harga terjangkau dan fasilitas kedit perbankan juga mempermudah kepemilikan rumah tanpa perlu menunggu usia beranjak senja. Memiliki rumah biasa atau tipe minimalis pun tak mengapa.

Hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas pekan lalu memotret status kepemilikan rumah keluarga-keluarga yang berada di 12 kota besar. Sebanyak 27,5 persen responden yang merupakan keluarga muda, –dengan usia pernikahannya masih tergolong baru terhitung sampai 5 tahun, mengaku sudah memiliki rumah sendiri. Ini artinya, jika responden sudah menikah pada usia 25 tahun, pada usia 30 tahun ia sudah memiliki rumah sendiri.

Hampir separuh dari keluarga muda (47,8 persen) ini bahkan bisa mendapatkan rumah sendiri dengan proses singkat, kurang dari setahun. Tipe rumah minimalis menjadi pilihan lebih dari sepertiga responden keluarga muda yang sudah membeli rumah.

Adapun responden dengan usia pernikahan di atas 5 tahun hingga 10 tahun yang mengaku sudah memiliki rumah sendiri jumlahnya lebih besar lagi, yakni 53,7 persen. Bisa dikatakan, pada rentang usia 31-35 tahun sudah banyak pasangan muda telah mapan dengan status rumah milik sendiri. Sementara sebagian keluarga muda yang belum mempunyai rumah sendiri alias masih tinggal dengan orang tua atau menyewa, merencanakan bisa membeli rumah sendiri palin lama lima tahun ke depan.

Namun, survei ini juga mengungkap pembelian rumah banyak memanfaatkan fasilitas kredit bank. Pembiayaan secara tunai pun banyak dipilih terutama untuk pembelian rumah-rumah seken.

Sementara itu, data Bank Indonesia menunjukkan pembiayaan perumahan melalui fasilitas kredit terus meningkat. Pada periode 2011 hingga Februari 2013, kredit untuk pemilikan rumah naik sekitar 1,8 persen per bulan. Penyebab kenaikan penyaluran kredit ini antara lain tingginya permintaan akan rumah, baik rumah baru maupun seken dan kenaikan harga properti.

Kebutuhan di atas pasokan

Hingga 2012 lalu, pemerintah mencatat, kebutuhan rumah baru mencapai 800.000 unit per tahun. Namun, pengembang hanya mampu memasok 200.000 unit rumah per tahun.

Akibatnya, pasar rumah seken meningkat. Di wilayah Jakarta, misalnya, kenaikan pasar rumah seken mencapai 4,1 persen. Properti bangunan lama di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat bisa terjual kembali dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Berdasarkan segi harga, kenaikan harga properti hunian mencapai 6,98 persen di 14 kota yang dipantau Bank Indonesia. Adapun di Jakarta, wilayah domisili dari separuh responden keluarga muda dalam survei ini, kenaikan harga properti mencapai 6,8 persen.

Pasar properti ke depannya akan terus menggeliat seiring membaiknya kehidupan para keluarga muda. Peluang ini terbuka tidak saja karena faktor keluarga muda yang ingin membeli rumah sendiri (rumah pertama), tetapi juga pada keluarga muda yang sudah memiliki rumah sendiri dan ingin membeli lagi rumah (rumah kedua dan seterusnya). Hal ini dimungkinkan jika rumah dipandang tidak saja sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai bentuk investasi.

sumber