Daerah Berlomba-lomba, Bisnis Konstruksi yang Reguk Untung

sapphire grup 136JAKARTA, KOMPAS.com – Pembangunan yang menggeliat membawa berkah bagi kontraktor. Kenaikan nilai kontrak ini terdorong upaya daerah yang sedang berlomba mengembangkan diri supaya terlihat maju.

Natal Argawan, Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (Wika) memperkirakan, total belanja konstruksi dan infrastruktur tahun ini bakal menyentuh Rp 150 triliun. Nilai perkiraan ini setara tumbuh 12% daripada tahun lalu.

Tentunya, hal tersebut akan berdampak positif bagi para kontraktor. Ambil contoh Wika, yang tahun ini menggarap kontrak proyek senilai Rp 25 triliun. Peningkatan permintaan jasa konstruksi ditopang oleh maraknya pengembangan infrastruktur daerah berupa jalan tol, jalan raya, bangunan tinggi, dan pembangkit listrik.

“Anggaran daerah ini juga lari ke infrastruktur,” kata Natal, Rabu (21/12/2011) kemarin.

Sebagai catatan, sebanyak 60% dari kontrak yang dikantongi Wika bersumber proyek yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sebagai contoh, tahun ini kontraktor pelat merah itu banyak menggarap proyek pembangkit listrik. Proyek pembangkit yang digarap Wika antara lain pembangkit listrik di Sulawesi Utara yang berkapasitas 2×25 Megawatt (MW).

Selain pembangkit, Wika juga menggarap proyek pembangunan Jembatan Tayan, Kalimantan Barat, senilai Rp 740 miliar dan normalisasi Kali Pesanggrahan II senilai Rp 281,8 miliar. Ia yakin, peningkatan permintaan jasa konstruksi masih akan berlanjut hingga tahun depan. Dus, Wika menargetkan pendapatan tahun depan Rp 11,2 triliun, naik 19,1% dari pendapatan tahun ini yang sebesar Rp 9,4 triliun.

“Proyek MP3EI bisa jadi rebutan bagi 100.000 perusahaan kontraktor di Indonesia, itu sebabnya bisnis konstruksi prospektif,” tutur Natal.

Ruang konvensi naik

Senada dengan Wika, PT Total Bangun Persada Tbk juga berhasil mengantongi permintaan konstruksi yang lebih banyak dari tahun lalu. Per Desember ini, Total Bangun telah meraih kontrak baru senilai Rp 2,4 triliun. Nilai ini lebih besar dari target perusahaan yang hanya sebesar Rp 1,8 triliun.

Elvina Apandi Hermansyah, Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Investor Total Bangun, menjelaskan, kontrak yang melampaui target itu didorong oleh maraknya permintaan pembangunan hotel.

“Permintaan ruang konvensi meningkat lantaran banyak event organizer yang menggelar konser musik dan konferensi,” tutur Elvina.

Beberapa proyek baru Total Bangun misalnya Hotel Marriott Bali senilai Rp 165 miliar dan Holiday Inn Bali senilai Rp 88 miliar. Selain itu, Total Bangun juga menggarap ruang konvensi di Samarinda senilai Rp 219 miliar.

Dengan sederet proyek itu, Total yakin tahun ini bisa mengantongi pendapatan Rp 2,5 triliun. Angka itu tumbuh 50% dari pencapaian 2010 yang senilai Rp 1,7 triliun.

(Maria Rosita)