Booming Properti, Berkah atau Musibah?

sapphire grup 90Perusahaan pengembang yang bermental unggul, sejatinya tak jauh beda dengan musisi yang terus-menerus menggubah harmoni terbaik, bukan saja agar disukai penikmatnya, melainkan juga agar mampu memberi arti dalam hidup para pendengarnya. Ibarat sebuah grup band yang legendaris, demikianlah Sapphire Grup sebagai pengembang produk hunian dan investasi di Jateng dan Jabar, tak henti meluncurkan cabang-cabang baru yang terus disempurnakan, yang siap memimpin pasar, bak tembang hits yang memuncaki daftar favorit pilihan pendengarnya.

Tekad untuk menjadi yang terbaik inilah yang mendorong perusahaan dari kota kecil Purwokerto, Jateng ini, mampu melesat hanya dalam tempo tujuh tahun menguasai pasar di berbagai kota di Jabar dan Jateng.  Apresiasi tak hanya ditunjukkan konsumen yang teredukasi membeli produk hunian sekaligus investasi, tetapi juga dengan diterimanya sejumlah penghargaan sejak 2011. Yang terbaru, PT Sapphire Sukses, menjadi salah satu perusahaan Indonesia yang menerima penghargaan dari tiga menteri, Juni 2012 di Jakarta. Penghargaan double award yaitu Indonesia International Creative and Innovative Award (IICIA) dan Indonesia International Quality Service Excelent Award (IIQSEA) ditandatangani oleh Menteri Perindustrian Ir Mohamad S Hidayat, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Maria Eka Pangestu serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Masyarakat Agung Laksono.

Dirut Sapphire Grup, Ali Rofi mengungkapkan, setelah melihat bagaimana pertumbuhan yang fenomenal hanya dalam tempo singkat, tidaklah dapat dikatakan jika seluruhnya merupakan hasil kerja cerdas dan kerja keras semata. “sesungguhnya saya melihat semuanya bagian dari berkah dan barokah dari Allah. Kepercayaan dari konsumen selalu menuntut kami untuk member lebih lagi, dan satu diantaranya kami menerapkan Sapphire Quality Manual agar konsumen kami memperoleh jaminan produk yang memiliki standar unggul di semua cabang kami,” ungkapnya di Cirebon, akhir pekan lalu.[pullquote style=”right”]“Inti bisnis property sejatinya melayani kebutuhan pokok masyarakat akan papan (tempat tinggal). Tetapi kami ingin menerapkan lebih dari sekedar tempat tinggal, hunian harus mampu dikonsep agar bisa menjadi instrument investasi yang terbukti menguntungkan bagi konsumen kami,” imbuhnya.[/pullquote]

Berkah vs Musibah

Pria yang juga Wakil Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng ini menambahkan, booming property Indonesia menumbuhkan begitu banyak merk perumahan yang bisa menjadi berkah sekaligus musibah bagi konsumen. Berkah karena konsumen jadi memiliki lebih banyak pilihan yang kian kompetitif. Musibah karena banyak merk juga dikelola secara asal-asalan dari segi teknik bangunan, legalitas maupun pengelolaan kawasan seperti fasilitas umum dan fasilitas sosial. “Pengembang jenis ini biasanya hanya berorientasi sesaat memanfaatkan booming untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, sehingga tidak focus pada kepuasan konsumen. Orientasi mereka jangka pendek, sedangkan pengembang sejati berorientasi jangka panjang sehingga harus membina kepercayaan konsumen,” imbuhnya.

Direktur Business and Development, Iqbal Fani menuturkan, standarisasi mutu produk telah diterapkan dari aspek legalitas property, teknik bangunan, standar fasilitas umum dan sosial hingga standar layanan konsumen. “inti bisnis property sejatinya melayani kebutuhan pokok masyarakat akan papan (tempat tinggal). Tetapi kami ingin menerapkan lebih dari sekedar tempat tinggal, hunian harus mampu dikonsep agar bisa menjadi instrument investasi yang terbukti menguntungkan bagi konsumen kami,” imbuhnya.

Pada aspek legal, konsumen harus dilindungi hingga memperoleh sertifikan kepemilikan yang sah, serta dilengkapi dengan wawasan yang cukup mengenai kontrak dan konsekuensinya bila menggunakan jasa kredit perbankan.  Pada aspek mutu bangunan, konsumen harus menerima produk yang benar-benar sesuai kualifikasi yang sepadan dengan harga yang telah dibayarkan, dan mendapat jaminan layanan complain yang professional apabila terdapat cacat yang tidak semestinya.

Kami juga menerapkan standar minimal fasilitas umum yang menunjang interaksi sosial penghuni, mulai dari lebar jalan minimal delapan meter, standar pengamanan seperti luas ruang penjagaan dan ketersediaan kamera CCTV, standar sarana ibadah, sarana bermain dan sarana olaharaga. Semua untuk member jaminan kepuasan pelanggan, sekaligus menegaskan bahwa Sapphire Grup harus menjadi produk yang layak menjadi instrument investasi property di semua kota,” tegasnya. (SG-)