BI Rate 7,5% Jadi Momok Bagi Pengembang Properti

bi-rateBank Indonesia (BI) telah menaikkan BI Rate menjadi 7,5%. Menurut para pengembang properti, kebijakan BI ini sangat ditakuti dan diwaspadai mereka.

“Bagi kami pelaku usaha real estat kenaikan suku bunga suatu hal yang paling ditakuti,” ungkap Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Setyo Maharso saat membuka Musyawarah Nasional Realestat Indonesia ke-14 tahun 2013 di Hotel Gran Melia Kuningan, Jakarta, Senin (25/11/2013).

Selain ditakuti pelaku usaha, kenaikan suku bunga acuan juga ditakuti masyarakat yang belum memiliki rumah dan yang sedang membayar cicilan rumah. Alasanya kenaikan BI rate dipastikan akan berdampak pada kenaikan suku bunga KPR.

“Kemudian bagi masyarakat yang membeli rumah dengan cara mencicil KPR, maka bayang-bayang naiknya beban hidup akibat kenaikan bunga kredit, seolah sudah muncul di depan mata,” imbuhnya.

REI mendorong agar pemerintah mengeluarkan paket kebijakan bagi dunia usaha khususnya pengembang kecil dan menengah. Ia juga meminta kepada pemerintah dan otoritas moneter untuk tidak mengeluarkan paket kebijakan yang bisa mengganggu pertumbuhan industri perumahan di Indonesia.

“Kepada mitra perbankan, kami juga mengimbau agar menahan diri untuk tidak buru-buru menaikkan bunga pinjaman,” tegasnya.

Selain itu, untuk mengurangi jumlah backlog rumah, REI memberikan bukti nyata dengan membangun ratusan ribu rumah di tahun 2013 ini. Bahkan REI telah mempunyai blue print dan komitmennya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun lebih banyak lagi rumah murah dan mengurangi backlog rumah di dalam negeri.

“Bulan Maret 2013, sudah diresmikan terbangunnya 104.042 unit rumah sederhana tapak yang dijual dengan harga jual bersubsidi yang ditetapkan pemerintah. Lalu kami punya blue print pengembangan realestat nasional yang disampaikan rakernas REI tahun lalu yang dihadiri dan dibukan oleh Presiden SBY,” katanya.(wij/hen)-detik finance